Pati, sraya.net – Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Pati, Teguh Bandang Waluyo, memberikan perhatian serius terhadap keluhan para petambak nila salin yang merasa terbebani oleh tingginya biaya produksi. Salah satu komponen biaya yang paling menguras kantong adalah pembelian bibit siap tebar yang selama ini banyak didatangkan dari jaringan luar daerah karena minimnya ketersediaan stok lokal yang mumpuni.
Menurut Bandang, tingginya biaya logistik dan harga bibit dari luar daerah secara otomatis menekan margin keuntungan petambak. Padahal, jika pembibitan dilakukan secara mandiri oleh kelompok tambak di Pati, efisiensi biaya bisa ditekan secara signifikan. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk menyediakan fasilitas unit percontohan pembibitan sebagai sarana belajar bagi warga.
Teguh Bandang Waluyo menekankan pentingnya kedaulatan bibit bagi keberlangsungan usaha perikanan di Bumi Mina Tani. “Petambak Pati harus mandiri bibit. Kalau masih beli dari luar, program lokal tidak tumbuh,” tegasnya saat meninjau aspirasi masyarakat. Ia melihat bahwa pelatihan yang bersifat praktik langsung jauh lebih dibutuhkan daripada sekadar sosialisasi teori di dalam ruangan.
Lebih lanjut, Bandang meminta Dinas Kelautan dan Perikanan untuk turun langsung memberikan pendampingan teknis. Penyediaan indukan berkualitas harus menjadi prioritas agar petambak tidak lagi merasa kesulitan dalam memulai proses pemijahan mandiri. Dengan bibit lokal yang berkualitas, diharapkan industri nila salin di Pati bisa lebih kompetitif di pasar nasional. (ADV)











