Jaza Soroti Distribusi Air Bersih di Winong, Minta Bantuan Tepat Sasaran

banner 468x60

PATI, sraya.net — Sejumlah desa di Kecamatan Winong mulai merasakan dampak kekeringan akibat berkurangnya ketersediaan air. Kondisi tersebut mendorong DPRD Kabupaten Pati meminta pemerintah daerah memperbaiki pola distribusi bantuan air bersih agar lebih terarah dan menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.

Anggota DPRD Pati dari Fraksi Golkar, Jaza Khoerul Sofyan, mengatakan penanganan kekeringan di Winong membutuhkan data yang akurat. Pemerintah, menurutnya, harus mengetahui secara pasti desa yang terdampak, jumlah warga yang mengalami kesulitan air, serta kebutuhan air di masing-masing wilayah.

“Di Winong ini pemerintah perlu memiliki data yang jelas. Desa mana yang sumurnya sudah kering, berapa jumlah warga yang terdampak, dan berapa kebutuhan airnya,” kata Jaza.

Ia menilai data tersebut tidak cukup dikumpulkan sekali. Seiring berlanjutnya musim kemarau, kondisi di lapangan dapat berubah sehingga pembaruan informasi perlu dilakukan secara berkala.

Jaza pun mendorong pemerintah desa dan kecamatan aktif menyampaikan perkembangan kondisi wilayah kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati. Koordinasi berjenjang dinilai penting agar tidak ada wilayah yang terlewat dari penanganan.

“Jangan sampai ada desa yang sudah kesulitan air tetapi belum tersentuh bantuan karena persoalan data. Koordinasi dari bawah sampai kabupaten harus diperkuat,” ujarnya.

Selain persoalan pendataan, Jaza menyoroti perlunya pengaturan distribusi air bersih. Jadwal pengiriman harus disusun berdasarkan tingkat kebutuhan sehingga bantuan tidak terkonsentrasi di satu wilayah, sementara desa lain masih menunggu pasokan.

“Yang kita perlukan bukan hanya banyaknya tangki, tetapi bagaimana air itu sampai kepada masyarakat secara tepat waktu dan tepat sasaran,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi kekeringan berulang, Jaza juga mendorong pemerintah menyiapkan fasilitas penyimpanan air di desa-desa yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Sarana tersebut dapat digunakan untuk menampung air saat pasokan datang sehingga pemanfaatannya oleh masyarakat menjadi lebih optimal.

Menurutnya, persoalan kekeringan perlu ditangani tidak hanya melalui langkah darurat, tetapi juga dengan membangun sistem penyediaan air yang lebih berkelanjutan.

“Kalau setiap musim kemarau persoalannya selalu sama, berarti ada yang harus diperbaiki dari sistemnya. Kita harus mulai membangun cadangan air di wilayah rawan kekeringan,” pungkasnya.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *