Komisi A Sebut Tradisi Sedekah Bumi Jadi Benteng Pelestarian Budaya Lokal di Pati

banner 468x60

PATI, sraya.net – Tradisi sedekah bumi yang masih rutin dilaksanakan di sejumlah desa di Kabupaten Pati dinilai memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi kesenian tradisional. Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Pati dari Fraksi Demokrat, Suharmanto, menyebut tradisi tersebut menjadi salah satu ruang yang masih memberikan kesempatan bagi kesenian lokal untuk tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, berbagai kesenian tradisional seperti wayang golek, wayang kulit, dan ketoprak hingga kini masih kerap ditampilkan dalam rangkaian sedekah bumi yang digelar masyarakat setiap tahun.

banner 336x280

“Sedekah bumi bukan sekadar tradisi syukuran masyarakat. Di dalamnya terdapat nilai budaya yang sangat besar karena menjadi wadah bagi kesenian tradisional untuk tetap tampil dan dikenal oleh masyarakat,” kata Suharmanto.

Ia menilai keberadaan tradisi tersebut harus terus dipertahankan karena memiliki fungsi strategis dalam menjaga warisan budaya lokal. Terlebih saat ini berbagai hiburan modern semakin mendominasi ruang publik dan perhatian generasi muda.

Menurut Suharmanto, pemerintah daerah perlu memberikan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan budaya yang tumbuh di masyarakat agar tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun tidak kehilangan makna dan eksistensinya.

“Kalau ruang pertunjukan budaya semakin berkurang, maka kesenian tradisional akan semakin sulit berkembang. Karena itu tradisi seperti sedekah bumi harus dijaga dan diperkuat sebagai bagian dari identitas masyarakat Pati,” ujarnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih mengenal budaya daerah melalui keterlibatan dalam berbagai kegiatan seni dan tradisi yang ada di lingkungan masing-masing.

“Generasi muda jangan hanya menjadi penonton budaya modern. Mereka juga harus menjadi pelaku dan penjaga budaya daerahnya sendiri. Sebab masa depan kebudayaan Pati ada di tangan generasi penerus,” tegas Suharmanto.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Ketika masyarakat masih menjaga tradisi, pemerintah harus hadir memperkuatnya. Jika budaya lokal terus dirawat dan diwariskan, maka identitas Kabupaten Pati akan tetap kokoh di tengah arus globalisasi yang semakin kuat,” pungkasnya.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *