Truk Tangki Terus Bergerak, DPRD Pati Ingatkan Kekeringan Tak Bisa Diatasi dengan Dropping Air Saja

Advertorial, Berita202 Dilihat
banner 468x60

PATI, sraya.net – Ketika sumur warga mulai mengering dan sumber air semakin sulit ditemukan, truk tangki menjadi salah satu harapan masyarakat di wilayah terdampak kekeringan. Air yang dibawa kemudian dibagikan kepada warga untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar.

Namun, pola tersebut dinilai hanya mampu menjawab kebutuhan dalam waktu singkat.

Anggota Komisi B DPRD Pati dari Fraksi Gerindra, Wisnu Wijayanto, mengatakan dropping air memang diperlukan ketika masyarakat berada dalam kondisi darurat. Hanya saja, distribusi air tidak seharusnya menjadi satu-satunya pola penanganan setiap musim kemarau.

“Dropping air itu penting untuk menjawab kebutuhan masyarakat hari ini. Tetapi kalau setiap tahun persoalannya sama, berarti kita membutuhkan solusi yang lebih permanen,” kata Wisnu.

Menurutnya, pemerintah perlu mulai melihat kekeringan sebagai persoalan ketahanan air. Artinya, pembangunan infrastruktur harus dipersiapkan sebelum kemarau mencapai kondisi terparah.

Ia menilai pembangunan sumber air permanen dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan tangki.

“Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah masyarakat mengeluhkan tidak punya air. Kita harus punya perencanaan sebelum kemarau datang, terutama untuk desa-desa yang sudah punya riwayat kekeringan,” ujarnya.

Wisnu mengatakan setiap wilayah memiliki karakter berbeda sehingga penanganannya tidak bisa diseragamkan. Ada daerah yang membutuhkan sumur bor, sementara wilayah lain mungkin lebih cocok dengan embung, jaringan distribusi, atau optimalisasi sumber air yang sudah ada.

Karena itu, menurutnya, pemerintah perlu menggabungkan data kekeringan dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat.

Langkah tersebut juga dinilai penting untuk memastikan pembangunan infrastruktur air tidak berhenti sebagai proyek, tetapi benar-benar berfungsi ketika masyarakat membutuhkannya.

“Yang kita kejar bukan sekadar berapa banyak tangki yang bisa dikirim, tetapi bagaimana masyarakat memiliki sumber air yang bisa digunakan ketika musim kemarau datang,” jelas Wisnu.

Ia berharap penanganan kekeringan ke depan mulai diarahkan pada pembangunan sistem air yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Sebab, ketika musim kemarau berulang setiap tahun, solusi yang dibutuhkan juga harus mampu bertahan lebih lama daripada satu musim kemarau.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *