PATI – Fenomena perubahan iklim global yang memicu intensitas hujan tinggi dan banjir tahunan di sejumlah wilayah Kabupaten Pati menjadi tantangan berat bagi ketahanan infrastruktur. Metode pengaspalan konvensional dinilai sudah tidak mampu lagi menghadapi rendaman air luapan sungai yang kerap melanda jalan-jalan kabupaten.
Oleh karena itu, parlemen mendesak perubahan total pada standar spesifikasi teknik jalan, khususnya di kawasan rawan banjir seperti Juwana, Sukolilo, dan Gabus. Struktur jalan wajib beralih menggunakan teknologi beton bertulang yang terintegrasi dengan drainase saluran air yang lancar.
Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Pati, Joni Kurnianto, mengingatkan bahwa kerugian finansial daerah akan sangat besar jika setiap tahun pemerintah harus mengalokasikan dana darurat untuk menambal jalan pasca-banjir.
“Jalanan di Kabupaten harus diperbaiki sebaik mungkin. Kalau perlu setahun kita bekerja keras supaya jalan jangka panjang paling bagus,” kata Joni Kurnianto mengingatkan.
Joni menilai, lebih baik mengeluarkan anggaran yang sedikit lebih mahal di awal untuk konstruksi beton tangguh, daripada murah namun hancur setiap kali musim hujan tiba. Perencanaan jangka panjang ini disebutnya sebagai langkah adaptasi infrastruktur yang cerdas.
Komisi C memastikan akan mengawal formulasi perencanaan ini bersama badan perencanaan pembangunan daerah agar target jalan mantap bebas banjir bisa terealisasi secara menyeluruh tanpa terkecuali.










