PATI, sraya.net — Penanganan siswa yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gembong diminta tidak dilakukan secara parsial. Komisi D DPRD Kabupaten Pati mendorong seluruh korban mendapatkan pelayanan medis secara optimal hingga kondisi mereka benar-benar pulih.
Ketua Komisi D DPRD Pati, Teguh Bandang Waluyo, menegaskan persoalan biaya tidak boleh menjadi alasan bagi keluarga untuk menghentikan pengobatan anak. Menurutnya, keselamatan dan kondisi kesehatan siswa harus menjadi pertimbangan utama.
“Jangan sampai orang tua membawa pulang anaknya karena takut biaya. Kalau masih membutuhkan perawatan, rawat sampai dokter menyatakan kondisinya sudah baik,” tegas Bandang.
Ia meminta seluruh fasilitas kesehatan yang menangani korban memberikan pelayanan maksimal. Pemantauan juga dinilai perlu dilakukan terhadap pasien yang sudah diperbolehkan pulang untuk memastikan tidak muncul kembali keluhan kesehatan.
Menurut Bandang, penanganan kasus dugaan keracunan tidak semestinya hanya berfokus pada siswa yang menjalani rawat inap. Mereka yang mengalami gejala ringan juga perlu mendapatkan pemeriksaan dan pemantauan karena kondisi kesehatan setiap anak dapat berbeda.
Kasus dugaan keracunan tersebut sebelumnya melibatkan siswa SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati. Para korban mendapat penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya Puskesmas Gembong, RSUD RAA Soewondo, RS Mitra Bangsa, RS KSH, dan RS Fastabiq.
Bandang juga mengimbau para orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila keluhan kembali muncul. Gejala seperti mual, nyeri perut, diare, atau gangguan kesehatan lainnya sebaiknya tidak dianggap sepele.
“Kalau ada gejala lagi, segera diperiksa. Jangan menunggu parah. Pemerintah sudah menyatakan persoalan biaya jangan menjadi penghalang untuk mendapatkan pelayanan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Komisi D DPRD Pati akan terus mengikuti perkembangan kondisi para siswa yang terdampak. Pengawasan dilakukan untuk memastikan seluruh korban memperoleh penanganan yang diperlukan sampai dinyatakan pulih.
Bagi Bandang, penyelesaian kasus tersebut bukan hanya ditandai dengan berkurangnya jumlah pasien di rumah sakit. Yang lebih penting, seluruh siswa yang terdampak harus dipastikan mendapatkan pemulihan dan pendampingan kesehatan secara menyeluruh.
(ADV)










