Nila Salin Berpotensi Jadi Andalan Pati, DPRD Minta Ekosistem Budidaya Diperkuat

Advertorial, Berita27 Dilihat
banner 468x60

PATI, sraya.net – Nila salin dinilai memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya di Kabupaten Pati. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan ekosistem yang lengkap agar pengembangannya tidak berjalan sendiri-sendiri.

Anggota Komisi B DPRD Pati dari Fraksi Gerindra, Wisnu Wijayanto, mengatakan pemerintah perlu melihat pengembangan nila salin sebagai sebuah rantai usaha. Menurutnya, pembibitan, budidaya, pendampingan hingga pemasaran harus saling terhubung agar hasilnya benar-benar memberikan keuntungan bagi masyarakat.

“Nila salin jangan hanya dilihat dari sisi ikannya. Ada petambak yang membutuhkan bibit, ada proses budidayanya, kemudian hasil panen juga harus memiliki pasar. Semua mata rantai itu harus diperkuat secara bersamaan,” kata Wisnu.

Ia menilai salah satu kelemahan program pengembangan komoditas perikanan adalah masih adanya jarak antara satu tahapan dengan tahapan lainnya. Ketika bibit tersedia, misalnya, belum tentu petambak memperoleh pendampingan yang cukup atau memiliki akses pasar yang kuat.

Karena itu, Wisnu mendorong pemerintah daerah membangun pola pembinaan yang lebih menyeluruh. Kelompok petambak perlu mendapatkan dukungan teknis sejak awal sekaligus dibantu memahami peluang pasar dari hasil produksinya.

“Jangan sampai petambak berhasil meningkatkan produksi tetapi bingung menjual hasilnya. Begitu juga sebaliknya, pasar tersedia tetapi produksi tidak mampu memenuhi kebutuhan. Keduanya harus disiapkan bersama,” ujarnya.

Menurut Wisnu, penguatan ekosistem juga dapat membuka peluang bagi masyarakat di luar kegiatan budidaya langsung. Mulai dari usaha pembenihan, penyediaan sarana produksi, pengolahan hingga distribusi dapat ikut tumbuh apabila komoditas tersebut berkembang secara konsisten.

Ia berharap pengembangan nila salin dilakukan dengan perencanaan jangka panjang dan melibatkan kelompok pembudidaya sejak tahap penyusunan program.

“Kalau seluruh rantainya berjalan, nilai tambahnya akan lebih banyak tinggal di Pati. Petambak mendapat keuntungan, usaha pendukung ikut tumbuh, dan pemerintah memiliki komoditas yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan,” pungkas Wisnu.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *