Pati, sraya.net — Tradisi Sedekah Laut di Juwana kembali digelar dengan meriah sebagai bagian dari warisan budaya yang terus dijaga masyarakat pesisir. Kegiatan tahunan ini selalu diisi dengan beragam rangkaian acara, mulai dari manakib, pengajian, hiburan dangdut, hingga pertunjukan seni ketoprak.
Lebih dari sekadar perayaan, Sedekah Laut menjadi simbol rasa syukur masyarakat nelayan atas hasil laut yang diperoleh sekaligus mempererat kebersamaan warga. Tradisi ini juga dinilai mampu menjaga identitas budaya lokal serta menarik perhatian masyarakat luas.
Ketua Barisan Muda Nelayan Pantura, Mukit, menyampaikan bahwa pelaksanaan Sedekah Laut tahun ini diharapkan membawa dampak positif bagi kehidupan nelayan di Juwana.
“Semoga Sedekah Laut tahun ini dapat meningkatkan keberkahan dan kesejahteraan nelayan Juwana,” ujarnya.
Mukit yang juga menjabat sebagai Sekretaris Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pati menilai, tradisi ini perlu terus dilestarikan dengan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.
Ia berharap adanya perhatian dan fasilitasi dari pemerintah agar Sedekah Laut tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi agenda budaya yang lebih besar.
“Kami berharap pemerintah dapat terus mendukung dan memfasilitasi tradisi ini agar tetap berlanjut dan bahkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” tambahnya.
Menurutnya, Sedekah Laut merupakan momentum penting yang tidak hanya mempererat solidaritas masyarakat, tetapi juga menjadi bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Ini adalah wujud syukur kita kepada Tuhan, yang setiap tahun kita peringati melalui Sedekah Laut,” tandasnya.
Tradisi ini pun menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan masyarakat, sekaligus menjadi cerminan kekayaan budaya pesisir di Kabupaten Pati.
(ADV)
















