Dukung Ketahanan Pangan, BMKG Perkuat Pemahaman Iklim Petani di Kabupaten Pati

Berita, Lokal58 Dilihat
banner 468x60

PATI, sraya.net – Perubahan pola musim menjadi tantangan tersendiri bagi petani dalam menjaga produktivitas pertanian. Untuk membantu menghadapi kondisi tersebut, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah memberikan edukasi kepada petani melalui program Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik di Balai Desa Raci, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Selasa (27/10/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema “Cerdas Membaca Iklim, Tangguh Wujudkan Ketahanan Pangan” ini bertujuan meningkatkan kemampuan petani dalam memahami informasi iklim sebagai pertimbangan menentukan waktu tanam dan mengantisipasi dampak perubahan cuaca terhadap hasil produksi.

Sejumlah pihak turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Koordinator BMKG Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto, Anggota Komisi V DPR RI Haryanto, Camat Batangan, Kepala Bidang PTPU Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Kepala Desa Raci, serta puluhan petani dari beberapa kecamatan.

Koordinator BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengungkapkan bahwa pemahaman terhadap kondisi iklim perlu menjadi bagian dari perencanaan pertanian. Melalui sekolah lapang, petani diharapkan mampu menerapkan informasi yang diperoleh untuk mengurangi risiko kerugian akibat ketidaksesuaian kegiatan pertanian dengan kondisi musim.

Ia menyebut, kebiasaan membaca tanda-tanda alam yang diwariskan secara turun-temurun tetap bisa digunakan sebagai pedoman. Meski demikian, ilmu titen dan pranata mangsa perlu disandingkan dengan data iklim modern agar keputusan yang diambil lebih sesuai dengan kondisi aktual.

Menurutnya, pola musim tradisional masih dapat menjadi acuan ketika kondisi iklim berjalan normal. Namun, saat terjadi penyimpangan musim, seperti kemarau yang berlangsung sangat kering, petani perlu menyesuaikan strategi berdasarkan informasi terbaru dari BMKG.

Dalam kesempatan tersebut, Goeroeh juga menyampaikan perkiraan awal musim hujan di Kabupaten Pati. Masyarakat diminta tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa musim hujan telah dimulai hanya karena hujan turun di beberapa wilayah.

BMKG memperkirakan wilayah selatan Kabupaten Pati mulai memasuki musim hujan pada awal Desember 2026. Sementara itu, sejumlah wilayah utara diprediksi mengalami awal musim hujan pada pertengahan Desember. Adapun akhir November masih diperkirakan menjadi periode peralihan musim.

Untuk menunjang aktivitas pertanian, BMKG menyediakan informasi iklim secara berkala dalam berbagai periode, mulai dari tahunan, musiman, bulanan, hingga dasarian atau sepuluh harian. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan petani untuk menyusun rencana pertanian sesuai perkembangan kondisi alam.

Selain itu, petani juga diperkenalkan dengan akses informasi cuaca yang lebih terperinci. Data cuaca diperlukan untuk membantu menentukan waktu pelaksanaan pekerjaan di lahan, termasuk penyemprotan pestisida dan pemupukan.

Goeroeh menegaskan, BMKG berupaya agar informasi yang disediakan dapat dijangkau dan dimanfaatkan langsung oleh petani, salah satunya melalui pendampingan penyuluh pertanian serta praktik penggunaan layanan informasi BMKG.

Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI Haryanto menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan sekolah lapang iklim di Kabupaten Pati. Ia menjelaskan bahwa dukungan terhadap kegiatan SLI Tematik maupun Sekolah Lapang Cuaca telah diberikan selama dua tahun berturut-turut.

Haryanto menilai peningkatan pemahaman petani terhadap kondisi cuaca sangat penting bagi daerah yang memiliki peran besar dalam mendukung ketahanan pangan. Menurutnya, Kabupaten Pati perlu terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian agar produktivitas tetap terjaga di tengah perubahan iklim.

Desa Raci dipilih sebagai lokasi kegiatan karena merupakan salah satu kawasan pertanian di Kabupaten Pati. Peserta yang mengikuti pembekalan tidak hanya berasal dari Batangan, tetapi juga mencakup petani dari Kecamatan Juwana, Jakenan, Tlogowungu, dan wilayah sekitarnya.

Ia berharap pelaksanaan sekolah lapang dapat diperluas dengan menambah jumlah kegiatan dan menjangkau kecamatan lain. Dengan demikian, semakin banyak petani yang memperoleh pengetahuan mengenai cara membaca informasi iklim dan menerapkannya dalam kegiatan budidaya.

Haryanto juga menilai perpaduan pengalaman petani dengan pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan akan memberikan manfaat lebih besar. Keduanya dapat menjadi bekal dalam menentukan langkah pertanian yang lebih terukur dan sesuai dengan perkembangan kondisi musim.

Melalui program ini, kolaborasi antara BMKG, pemerintah daerah, penyuluh, dan kelompok tani diharapkan semakin kuat. Pemanfaatan informasi iklim secara tepat diharapkan mampu membantu petani mengurangi risiko gagal panen sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan di Kabupaten Pati.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *