Haryono Soroti Fluktuasi Harga, Petani Tambak dan Garam Perlu Kepastian Pasar

Advertorial, Berita78 Dilihat
banner 468x60

PATI, sraya.net — Ketidakstabilan harga hasil produksi masih menjadi tantangan bagi petani tambak dan garam di Kabupaten Pati. Perubahan harga yang sulit diprediksi membuat pendapatan petani ikut berisiko, terlebih ketika harga jual turun setelah mereka mengeluarkan biaya produksi cukup besar.

Anggota DPRD Kabupaten Pati, Haryono, menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Menurutnya, peningkatan produksi belum cukup untuk meningkatkan kesejahteraan petani apabila tidak dibarengi dengan kepastian pasar dan harga jual yang memadai.

“Jangan hanya berbicara soal peningkatan produksi. Hasil produksi juga harus memiliki pasar dan harga jual yang mampu memberikan keuntungan layak bagi petani,” ujarnya.

Haryono menjelaskan, komoditas tambak maupun garam sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar. Ketika harga berada pada level rendah, petani sering kali tidak memiliki banyak pilihan selain melepas hasil produksinya karena membutuhkan perputaran modal.

Untuk mengurangi risiko tersebut, ia mendorong pemerintah memperluas akses pemasaran sekaligus membangun kemitraan yang lebih kuat antara petani dengan pelaku usaha. Langkah ini dinilai dapat membantu menciptakan pasar yang lebih stabil bagi hasil produksi masyarakat pesisir.

Selain itu, regulasi daerah juga dinilai dapat menjadi instrumen untuk memperkuat posisi petani dalam rantai perdagangan. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menciptakan tata niaga yang lebih adil dan memberikan ruang yang lebih besar bagi petani untuk memperoleh nilai jual yang layak.

“Kalau tata niaganya diperbaiki, posisi petani akan lebih kuat. Pemerintah bisa membantu membuka akses pasar dan mempertemukan petani dengan pembeli atau mitra usaha yang lebih luas,” katanya.

Politisi PKB itu menambahkan, persoalan harga perlu menjadi salah satu perhatian apabila pemerintah dan DPRD nantinya menyusun Perda yang berkaitan dengan perlindungan petani tambak dan garam.

Ia berharap kebijakan yang disiapkan tidak hanya muncul ketika harga komoditas sedang mengalami tekanan. Menurutnya, diperlukan mekanisme perlindungan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan sehingga petani memiliki daya tahan lebih baik menghadapi perubahan pasar.

“Petani perlu memiliki sistem perlindungan agar lebih siap menghadapi fluktuasi harga. Dengan begitu, pendapatan mereka tidak terlalu mudah terdampak ketika kondisi pasar berubah,” pungkasnya.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *