Wisata Sejarah Pati Perlu Dikemas Kreatif untuk Gaet Generasi Muda

Advertorial, Berita24 Dilihat
banner 468x60

PATI, sraya.net – Pengembangan wisata sejarah di Kabupaten Pati dinilai perlu diikuti strategi promosi dan penyajian informasi yang lebih inovatif. Langkah tersebut dianggap penting agar berbagai peninggalan sejarah dan budaya lokal mampu menjadi destinasi yang menarik, terutama bagi kalangan anak muda.

Sekretaris Komisi A DPRD Pati, Kastomo, mengatakan Pati memiliki sejumlah potensi wisata sejarah yang layak dikembangkan. Di antaranya Gapura Majapahit, Petilasan Kadipaten Pesantenan, hingga Situs Candi Kayen.

Menurutnya, keberadaan situs bersejarah tersebut merupakan aset daerah yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai sarana edukasi sekaligus destinasi wisata.

Namun, Kastomo menilai penyampaian sejarah perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Informasi mengenai sebuah situs, kata dia, harus dikemas secara komunikatif sehingga pengunjung tidak hanya melihat bangunan atau peninggalan, tetapi juga memahami cerita yang ada di baliknya.

“Sekarang tantangannya bagaimana membuat sejarah menjadi sesuatu yang menarik. Kalau hanya berupa bangunan dan cerita tanpa kemasan yang komunikatif, anak muda bisa kurang tertarik,” ujarnya.

Ia mencontohkan Gapura Majapahit di Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, yang dapat menjadi salah satu tujuan wisata edukasi. Selain mempertahankan nilai historisnya, kawasan tersebut dinilai perlu didukung penyajian informasi yang mampu memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan.

Kastomo juga mendorong pemanfaatan teknologi dalam mengenalkan sejarah lokal. Papan informasi interaktif, kode QR, arsip digital, hingga konten audiovisual dapat digunakan untuk membuat informasi sejarah lebih mudah diakses oleh pengunjung.

“Sejarah bisa disampaikan melalui cara yang modern. Pengunjung datang, kemudian bisa langsung mengetahui siapa tokohnya, bagaimana ceritanya, dan apa nilai yang bisa dipelajari,” jelasnya.

Selain aspek teknologi, pengembangan wisata sejarah juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah daerah, pengelola situs, komunitas budaya, sekolah, hingga pelaku ekonomi kreatif dinilai perlu membangun kolaborasi agar destinasi sejarah tidak berhenti sebagai tempat kunjungan semata.

Dengan pengelolaan yang lebih kreatif dan kolaboratif, wisata sejarah diharapkan mampu memperkuat pelestarian budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan destinasi.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *