Mukit Minta Pemetaan Kekeringan Jadi Acuan Bantuan untuk Petani Pati

Advertorial, Berita39 Dilihat
banner 468x60

PATI, sraya.net — Kondisi kemarau mendorong petani di sejumlah wilayah Kabupaten Pati melakukan penyesuaian dalam menentukan komoditas yang ditanam. Di Kecamatan Winong, Jakenan, Pucakwangi, dan Batangan, sebagian petani memilih tembakau ketika ketersediaan air tidak mencukupi untuk budidaya padi.

Sekretaris Komisi B DPRD Pati dari Fraksi Demokrat, Mukit, menilai perubahan komoditas tersebut merupakan bentuk adaptasi petani terhadap kondisi lingkungan dan ketersediaan air.

Menurutnya, petani tentu mempertimbangkan kebutuhan air, risiko produksi, hingga potensi keuntungan sebelum menentukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan.

“Petani pasti menghitung risikonya. Kalau kondisi air tidak memungkinkan untuk menanam padi, mereka akan memilih tanaman yang kebutuhan airnya lebih sedikit tetapi tetap mempunyai nilai ekonomi,” ujarnya.

Mukit menilai pemerintah daerah perlu memiliki data yang lebih rinci mengenai wilayah yang mengalami kekeringan. Pemetaan tidak hanya mencakup lokasi, tetapi juga luas lahan terdampak, jumlah petani, serta komoditas yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.

“Harus ada data yang jelas, mulai dari luas lahan yang kekurangan air, jumlah petani yang terdampak, sampai tanaman yang kemudian dipilih. Data itu penting untuk menentukan langkah pemerintah,” jelasnya.

Menurut Mukit, karakteristik setiap wilayah tidak selalu sama. Karena itu, kebijakan pertanian juga perlu disusun berdasarkan kondisi lapangan dan tidak menggunakan pendekatan yang seragam untuk seluruh Kabupaten Pati.

Ia berharap hasil pemetaan nantinya dapat menjadi acuan dalam menentukan berbagai bentuk intervensi, baik berupa bantuan benih dan sarana produksi maupun pembangunan infrastruktur pendukung pertanian.

Dengan perencanaan berbasis data, penanganan dampak kemarau diharapkan tidak berhenti pada bantuan sementara. Pemerintah dapat menyiapkan strategi jangka panjang agar petani mampu memilih komoditas yang sesuai sekaligus mempertahankan produktivitas dan pendapatan.

“Jangan sampai setiap kemarau kita hanya mencari solusi sementara. Harus ada perencanaan yang lebih terarah supaya petani bisa menyesuaikan pola tanam dengan kondisi wilayahnya,” pungkasnya.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *