Pasang Laut Rendah Ganggu Produksi Garam Batangan, Berdampak untuk Pendapatan Petani

banner 468x60

PATI, sraya.net — Kemarau panjang tidak hanya menghambat proses produksi garam rakyat di Kecamatan Batangan, tetapi juga mulai berdampak terhadap pendapatan petani. Rendahnya pasang air laut membuat sebagian tambak kesulitan memperoleh pasokan air sehingga kegiatan produksi tidak berjalan maksimal.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Pati dari Fraksi PKB, Hilal Muharom, meminta pemerintah daerah melihat persoalan tersebut secara lebih luas. Menurutnya, dampak ekonomi yang muncul akibat terhentinya produksi perlu ikut dihitung agar penanganan yang diberikan sesuai dengan kondisi petani.

“Yang harus dihitung bukan hanya berapa hari petani tidak produksi, tetapi berapa besar potensi pendapatan yang hilang. Karena kalau produksi berhenti, otomatis pendapatan petani juga ikut berhenti,” kata Hilal.

Kendala pasokan air laut disebut terjadi di sejumlah kawasan tambak garam di Batangan. Salah satunya di Desa Ketitangwetan, dengan luas tambak yang terdampak disebut mencapai lebih dari 300 hektare.

Hilal menilai kondisi tersebut membutuhkan data yang lebih terperinci. Pemerintah perlu mengetahui luas lahan yang terdampak, jumlah petani yang mengalami kendala, durasi terhentinya produksi, hingga perkiraan potensi produksi yang hilang.

“Data itu penting. Dari sana pemerintah bisa menentukan apakah intervensinya berupa pompa, perbaikan saluran, bantuan sarana produksi atau bentuk lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, pendataan juga dapat menjadi dasar dalam menentukan prioritas penanganan. Kawasan dengan dampak terbesar dapat memperoleh perhatian lebih dahulu sesuai kebutuhan di lapangan.

Hilal menambahkan, aktivitas produksi garam menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat di wilayah pesisir. Karena itu, gangguan produksi yang berlangsung dalam waktu lama berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi rumah tangga petani.

Ia berharap pemerintah tidak menunggu kondisi pasang kembali normal apabila persoalan tersebut dapat diatasi melalui dukungan infrastruktur maupun sarana produksi.

“Jangan sampai petani terus menunggu air pasang sementara kebutuhan ekonomi mereka tetap berjalan,” pungkasnya.

(ADV)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *