Pati Kembangkan Pertanian Modern, Alsintan dan Kelapa Kopyor Jadi Andalan

Berita, Lokal35 Dilihat
banner 468x60

PATI, sraya.net – Pemerintah Kabupaten Pati meminta seluruh bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dikelola secara tertib dan bertanggung jawab. Pengawasan diperketat agar peralatan yang telah disalurkan kepada kelompok tani tidak terbengkalai dan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan hasil produksi.

Hal tersebut ditegaskan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, dalam kegiatan penyerahan 32 unit alsintan kepada kelompok tani di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pati, Kamis (22/10/2026).

Chandra meminta Dinas Pertanian Kabupaten Pati beserta penyuluh pertanian lapangan (PPL) menelusuri keberadaan dan kondisi bantuan yang disalurkan sepanjang 2025 hingga 2026. Pemeriksaan mencakup pencatatan inventaris, pengecekan fisik, pendataan lokasi alat, serta pelengkapan bukti dokumentasi berupa foto dan video.

Ia menegaskan, bantuan yang berasal dari anggaran negara harus dijaga dan dipastikan penggunaannya sesuai ketentuan. Peralatan yang diketahui mengalami kerusakan diminta untuk dievaluasi, termasuk kemungkinan penarikan sementara guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Chandra juga mengingatkan Gapoktan agar tidak mengabaikan pemeliharaan alsintan. Menurutnya, keberhasilan program bantuan tidak hanya diukur dari jumlah alat yang diserahkan, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan petani.

Di luar penyaluran bantuan mekanisasi, Pemkab Pati turut mendorong pengembangan komoditas kelapa kopyor sebagai peluang usaha bernilai ekonomi tinggi. Chandra mengapresiasi inovasi kultur embrio kelapa kopyor yang dikembangkan Dinas Pertanian Kabupaten Pati dan berharap teknologi tersebut terus dikembangkan.

Ia menyebut harga bibit kelapa kopyor hasil kultur embrio mencapai sekitar Rp1,5 juta per bibit, dengan pembayaran uang muka 50 persen dan masa tunggu sekitar satu tahun. Adapun satu pohon diperkirakan mampu menghasilkan 120 butir kelapa kopyor per tahun.

Dengan harga jual sekitar Rp50 ribu per butir, potensi omzet kotor dari satu pohon diperkirakan mencapai Rp6 juta setiap tahun. Peluang ini dinilai dapat menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk menekuni sektor pertanian sebagai bidang usaha yang menjanjikan.

Chandra menilai pertanian perlu dikembangkan melalui inovasi dan pengelolaan yang berorientasi pada nilai tambah. Dengan demikian, sektor tersebut tidak hanya menopang kebutuhan pangan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Dalam kesempatan itu, ia turut menyampaikan bahwa Kabupaten Pati mendapat undangan dari Menteri Pertanian terkait pengembangan bioetanol. Pati dan Wonogiri disebut sebagai dua daerah di Jawa Tengah yang memperoleh undangan tersebut.

Selain pengembangan bioetanol, terdapat arahan mengenai penyediaan bibit jagung untuk lahan seluas 1.000 hektare dan rencana pembukaan lahan pertanian hingga 20.000 hektare.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, memaparkan rincian 32 unit alsintan yang disalurkan pada tahun anggaran 2026. Bantuan tersebut terdiri atas delapan traktor roda empat merek Maxxi, empat traktor roda dua merek Quick Zeva, tujuh mesin tanam padi (rice transplanter), dan 13 pompa air.

Firman berharap bantuan tersebut dapat membantu petani mengurangi biaya operasional sekaligus mempercepat pekerjaan di lahan pertanian. Ia meminta seluruh kelompok penerima menjaga kondisi alat dan menggunakannya sesuai peruntukan, tanpa mengalihkan pemanfaatannya ke wilayah lain di luar ketentuan.

Selain memperjuangkan bantuan alsintan, Firman mengusulkan 15 paket kegiatan infrastruktur pertanian kepada Kementerian Pertanian untuk tahun anggaran 2026.

Usulan itu meliputi tiga paket jalan usaha tani, empat paket irigasi perpompaan, satu paket irigasi perpipaan, lima paket rehabilitasi jaringan tersier (PITER), serta dua paket bangunan konservasi berupa embung dan dam parit. Seluruh usulan tersebut masih dalam proses pengusulan pencairan.

Firman juga mendorong pengembangan laboratorium kultur embrio kelapa kopyor di Pati agar berpeluang menjadi program nasional. Ia menyatakan siap mengawal dukungan anggaran dan proses pengajuan paten melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual untuk memperkuat perlindungan terhadap inovasi tersebut.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Ratri Wijayanto, menyampaikan bahwa modernisasi melalui pemanfaatan alsintan diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Penggunaan peralatan mekanis dinilai dapat menghemat waktu, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, serta menekan biaya produksi sehingga hasil panen lebih optimal.

Dari sisi kesejahteraan petani, Chandra juga menyoroti perkembangan harga sejumlah komoditas. Ia menyebut harga pupuk relatif terjangkau, sedangkan harga gabah kering dan jagung dinilai cukup baik.

Harga singkong pun disebut mengalami kenaikan dari sebelumnya di bawah Rp1.000 menjadi sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Menurutnya, kondisi tersebut harus diimbangi dengan pengelolaan usaha tani yang lebih efisien agar petani dapat memperoleh keuntungan secara optimal.

Sementara di sektor perikanan, Pemkab Pati menjajaki dukungan energi panel surya dan baterai untuk Kampung Nelayan Merah Putih melalui koordinasi dengan Menteri Kelautan dan Perikanan. Fasilitas energi tersebut direncanakan untuk mendukung operasional cold storage dan pabrik es selama 24 jam.

Penguatan sarana penyimpanan dan produksi es diharapkan dapat menunjang aktivitas nelayan, menjaga kualitas hasil tangkapan, serta meningkatkan nilai ekonomi sektor perikanan di Kabupaten Pati.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *